Ayam Bakar Mas Mono
Gurih Sampai ke Tulang

untitled1

Ingin makan lezat, kenyang, dan terjangkau? Jalan–jalan saja ke kawasan Tebet, Anda akan menemukan beragam jenis makanan dari yang berkonsep gerobak, warteg, hingga restoran kelas menengah. Tempat makan yang bisa direkomendasi salah satunya Ayam Bakar Kalasan Mas Mono di Jalan Tebet Raya 57, Jakarta Selatan.

repro wartakota

Kalau Anda menuju ke Jalan Tebet Utara Dalam, lalu belok kiri sedikit, masuk Jalan Tebet Raya, persis di sudut kiri jalan akan terlihat satu komplek yang di dalamnya ada kios wartel, restoran Manado, dan studio musik. Warteg Ayam Bakar Kalasan Mas Mono nyaris tak terlihat karena posisinya mojok, dan tempatnya tak menarik, sederhana dan sumpek. Tapi, warung seluas 2×4 meter persegi dan hanya memuat maksimal 15 pengunjung itu nyaris tidak pernah sepi dari pengunjung.

Cukup dengan uang Rp 7.000, pengunjung bisa makan seporsi ayam bakar plus nasi, lalap, dan sambal. Menu lain tak banyak, ayam goreng, tempe, tahu. Minuman pun hanya soft drink, karena tak cukup tempat menyiapkan minuman olahan. Tapi, pengunjung datang ke sini karena ayam bakar dan sambal yang rasanya khas resep asli pemiliknya, Mono dan istrinya, Nunung.

Pria ini bernama lengkap Agus Pramono. “Saya ambil kata `Mas Mono` agar terkesan kampung, jadi lebih akrab. Kalau `Pram` kan kesannya lebih berkelas,” jelas Mono tentang nama produknya, saat ditemui Warta Kota di warungnya, Jumat (10/3).

Dari pengunjung biasa hingga kalangan artis, pejabat, dan dari anak sekolah hingga karyawan, semua suka rasa ayam bakar Mas Mono. Menurut Mono, rasa khas ayamnya yakni manis gurih hingga ke tulang. “Kucing saja enggak kebagian tulang, karena tulangnya juga enak dimakan,” kata Mono mengibaratkan.

Memasak ayam Mas Mono butuh waktu lama. Agar empuk sampai ke tulang. Sebelum dibakar, 30 ekor ayam direbus di panci besar selama sejam. Kok nggak hancur? “Itu ada teknik rahasianya,” ucap Mono.

Meski kelas kaki lima, Mono berani bersaing dengan produk lain yang serupa, karena dia selalu menjaga kualitas masakannya. “Saya pakai beras, kecap, lalap, dan ayam pilihan dari agen langganan. Bebas flu burung dan formalin,” ujarnya.

Kualitas pelayanan pun dia pakai pengalamannya sewaktu kerja di restoran siap saji. “Keramahan pada konsumen, kerapihan penampilan selalu dijaga, seperti kuku jangan panjang dan tidak berkumis. Saya masih nganut customer is king,” tutur ayah dari Novita “Oppie” Anung Pramono (3) ini.

Untuk membuat warung menarik, Mono majang foto–foto saat dirinya berpose dengan para artis, Harry Panca, Indy Barends, Delon, Miing, Fery Salim, Kristina, dan Krisdayanti. “Ayam Bakar Mas Mono tak ada duanya di Jakarta,” demikian kesan tertulis Agus Wisman, dan dipajang di dinding warung.

“Beberapa artis makan di sini, tapi ada yang ketemu waktu katering saya dipesan di TransTV atau hotel,” ujar Mono.

Mono menyebut beberapa artis yang pernah makan di warungnya: Uya, Miing, Tengku Firmansyah, Edi Brokoli, dan Andhika.

Pria kelahiran Madiun, 28 Agustus 1974 ini terkenal ulet. Dia pernah jadi office boy kantor, dan pernah kerja di dapur restoran siap saji fried chicken. Beruntung, dia menikahi wanita yang juga ulet.

Karena tuntutan ekonomi makin tinggi, lelaki berkulit gelap dengan kepala plontos ini memilih bewiraswasta. Dia mengawali usaha dari satu gerobak keliling yang menjual pisang cokelat gulung. Pas ngetem di depan Universitas Sahid, Jalan Soepomo, dia nemu lapak (kini pom bensin) yang membuatnya berpikir alih menu, yakni menjual ayam bakar, dengan modal awal Rp 500.000. Selama tiga tahun, gerobak dengan tenda bongkar pasang mangkal di situ, sampai digusur.

Untung, pamor ayam bakarnya sudah kadung terkenal. Saat cari lokasi baru pun, Mono dibantu pelanggan, pemilik tanah warungnya sekarang. “Dari kontrak Rp 3 juta, sekarang jadi Rp 8 juta per tahun,” ungkapnya.

Awalnya, Mono pesimis melihat posisi warungnya ngumpet. Tapi, dia coba yakinkan diri jika menu sedap pasti laku. Hasilnya dari memasak 80 ekor ayam per hari, kini bisa masak sampai 250 ekor ayam per hari. Gara–gara Harry Panca (presenter Dunia Lain), Mono sudah empat tahun menghandle katering jika Trans TV bikin gawean. Tanpa lewat tes produk, dan proposal, resep Mono sudah dipercaya.

Kateringnya pun sudah tembus ke rumah dinas wapres, kediaman Megawati, dan acara–acara pejabat. Kini Ayam Bakar Mas Mono sudah mau buka cabang ke–6, yang tengah direnovasi, di Jalan Tebet Timur Dalam 48, dengan kapasitas ruang yang lebih luas. Lainnya di Pulo Nangka Barat, Pengadegan Selatan Raya, dan Kantin Kampus ASMI–Pulo Mas.

Dari omzet awal Rp 15.000–Rp 20.000 per hari, omzet ayam bakar Mono kini rata–rata Rp 5 juta per hari (baru dari menu ayam bakar). Hal menarik Mono dari awal buka usaha tidak banyak menaikkan harga, karena dia menganut filosofi China. “Untung sedikit asal lancar,” kata Mono tersenyum. (Warta Kota/Yus)

About these ads