Posts from the ‘ARTIKEL KULINER’ Category

Kuliner khas kota Bandung yang wajib dibeli untuk oleh-oleh Bandung

Anda pasti sering berkunjung ke Bandung, apalagi jika anda tinggal di kota2 yang bersebelahan dengan kota sejuta kuliner ini. BAndung sering disebut sebagai Surganya Kuliner, kenapa? Karena memang sangat banyak sekali ragam makanan dan minuman enak dan unik di kota ini.

Jutaan pengunjung kota bandung selalu memenuhi kota ini pada saat akhir pekan, yang dicari di Bandung apalagi selain Fashion dan kulinernya. Nah untuk anda yang pernah atau ingin berkunjung ke Bandung, ada beberapa makanan wajib dijadikan oleh-oleh dari kota Bandung. Diantaranya

1. Batagor

batagor-riri-oleholehbandung

batagor-riri-oleholehbandung

Banyak penjual batagor di Kota Bandung, tetapi ada beberapa yang cukup kondang seperti Batagor Riri (Jl. Burangrang), Batagor Abuy (Jl. Lengkong Besar), Batagor Darto (Simpang Dago), Batagor Kingsley (Jl. Veteran) dan sebagainya. Jika ingin membawa batagor untuk oleh-oleh keluarga dirumah, anda dapat memintanya menggoreng setengah matang agar lebih awet.

2. Tahu

tahu tauhid oleh oleh bandung

tahu tauhid oleh oleh bandung

Nah penganan yang satu ini juga enga boleh terlewatkan, Tahu juga menjadi kuliner khas dari kota Bandung. Yang cukup populer adalah Tahu Tauhid yang letaknya berada di Lembang, tahu disini beda dari tahu yag lain, dari teksturnya yang lembut, aromanya yang khas juga rasanya yang gurih. Anda bisa membeli tahu disini dalam kondisi mentah atau belum digoreng.

3. Pisang Bolen

bolen kartika sari bandung

bolen kartika sari bandung

Kuliner yang satu ini sangat lezat apalagi dijadikan oleh-oleh untuk keluarga anda. Pisang bolen di kota Bandung ini sangat banyak sekali yang menjajakannya sebagai oleh-oleh.

Tetapi yang cukup favorit untuk dijadikan buah tangan oleh pengunjung dari luar kota bandung adalah Pisang Bolen Kartika Sari yang terletak di jalan Dago, jalan kebon kawung, jalan antapani, dan maih banyak lg. Rasa gurih pisang dan kejunya kental sekali. Varian yang banyak dicari adalah Bolen Isi Durian..lazies

4. Kue kering / Cookies

black gouda cookies nituty khas bandung nituty-cookies-outlet-bandung

Akhir-akhir ini banyak oengunjung yang berwisata ke kota Bandung dengan tidak lupa membawa buah tangan berupa kue kering atau biasa kita sebut cookies. Cookies di kota Bandung itu rasanya beda dari yang lain, lebih gurih dan banyak variasi rasanya.

Salah satu yang terpopuler yaitu Nituty Cookies yang terletak di jalan jakarta antapani bandung, Kue kering dengan brand Nituty Cookies ini  menjadi salah satu kuliner wajib untuk dijadikan oleh-oleh. Walaupun kue kering identik dengan kuliner idul fitri, tetapi ternyata sekarang ini kue kering sudah menjadi kuliner khas cemilan sehari hari dari kota Bandung.

Varian yang terkenal dari Nituty Cookies ini yaitu “Black Gouda Cookies” keju Belanda yang dibalur Coklat, rasanya..yummyyyy

menurut mimin sih yang satu ini wajib dicoba kalo ke bandung.

http://www.nitutycookies.com

5. Brownies kukus

Resep-Brownies-Kukus-Amanda-Spesial

Apalagi brownies kukus yang terkenal selain Amanda Brownies, sudah suatu kewajiban untuk anda yang berkunjung ke Bandung mampir dulu ke Outlet Amanda Brownies yang outlet pusatnya berada di jalan rancabolang soekarno hatta Bandung.

Jadi tunggu apa lagi, Yukk liburan ke Bandung buat beli kuliner wajib tersebut.. serbuuuuu..

rajaresep.com

Advertisements

Asal Mula BROWNIES KUKUS AMANDA

BROWNIES KUKUS AMANDA disebut oleh-oleh paling megang’ dari Bandung. Kue cokelat ini sejak beberapa tahun terakhir memang sangat ngetop. Rasanya, pulang dari Bandung tanpa brownies ini, seperti ada yang kurang. Siapa sangka, ketika memulai usaha dulu, kios brow­nies ini sempat terkena gusur.

KREATIWTAS MODIFIKASI RESEP
Kesuksesan brownies kukus Amanda ini mengagumkan. Bayangkan, dalam satu hari, lebih dari 1.000 loyang kue habis diserbu pembeli. Siapa menyangka, kue lezat ini merupakan hasil kreasi seorang ibu rumah tangga yang memodifikasi resep kue bolu kukus.

Berawal dari ketidakpuasan mencoba resep bolu kukus dari seo­rang adiknya, Hj. Sumiwiludjeng (67), pada akhir 1999, mulai mengutak-utik resep itu untuk mendapatkan rasa yang lebih enak. Bagi indra pengecap Sumi, lulusan Tata Boga IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta), rasa bolu cokelat itu kurang nendang’.

Memasak memang bukan sekadar hobi bagi Sumi. Istri pensiunan pegawai PT Pos Indonesia ini sejak dulu memanfaatkan kepandaian­nya memasak untuk menambah pemasukan keluarga, H. Sjukur Bc.AP (69). Sumi, dibantu putra sulungnya, Joko Ervianto (41), menerima pesanan kue dan makanan untuk arisan hingga pesta perkawinan. Namun, usaha ini masih bersifat industri rumahan.

“Ketika akhirnya menemukan formula yang pas untuk bolu ku­kus cokelat itu, katering kami mulai menawarkan kue itu kepada pelanggan,” tutur Atin Djukarniatin (41), istri Joko, yang ikut serta membesarkan toko kue ini.

Menurut Atin, ketika ditawarkan kepada konsumen katering­nya, kue cokelat itu langsung jadi favorit. Rupanya, tekstur lem­but dan paduan rasa cokelat yang mantap, membuat kue ini gampang disukai. “Banyak orang yang kemudian mulai memesan kue, yang dulu hanya disebut kue bolu cokelat saja,” tutur Atin. Joko, yang melihat potensi pasar kue itu, mengeluarkan kue tersebut dari daftar salah satu menu dalam katering, menjadi produk yang berdiri sendiri. “Akhirnya, agar lebih dikenal orang, kami men­cari nama jenis kue yang baru ini. Lalu, tercetuslah nama brownies kukus,” ujar Atin.

Mengapa brownies kukus? Menurut Atin, karena tekstur kue dan warnanya yang cokelat pekat ini mirip tekstur kue brownies. Selain itu, nama brownies kukus lebih mengena di telinga calon konsu­men sehingga mereka penasaran mencicipinya.

Setelah mendapatkan nama brownies kukus, awal tahun 2000 Joko dan Atin membuka sebuah kios kaki lima di kompleks pertokoan Metro, Margahayu, Bandung, untuk menjualnya. Meski disukai kon­sumen katering, ketika pertama kali ‘dijual bebas’, brownies kukus itu kurang menarik minat pembeli.”Orang yang lewat memang meno­leh dan penasaran dengan nama brownies kukus, namun tidak banyak yang membelinya,” ujar Atin.

Tak kurang akal, Atin lalu menjual kue itu dalam bentuk kue po­tong seharga Rp1.000 per potong. Dengan cara ini, ternyata bisa laku 150-250 potong atau 3-5 loyang ukuran 24 x 24 cm. Sayangnya, usaha yang baru berkembang ini tak bisa bertahan, karena pertokoan Metro terbakar.Akibatnya, kios brownies kukus pun ikut tergusur dan pindah ke J1. Tata Surya 11, yang masih terletak di kompleks yang sama. Anehnya, pindah lokasi di perumahan bukannya meredupkan rezeki, malah menjadi titik terang bisnis brownies kukus ini. Di sini, keuntungannya justru berlipat ganda.

Bisnis Keroyokan keluarga
Sukses menggaet pelanggan baru membuat Joko berpikir untuk memberi brand agar lebih komersial. “Kami lalu terpikir meng­hidupkan kembali CV (commanditaire vennootschap) Amanda, per­usahaan yang pernah dimiliki Ibu, ketika masih memiliki usaha kantin dan salon potong rambut,” tutur Atin. Tahun 2001, kue itu punya nama resmi, yaitu Brownies Kukus Amanda. Dalarn terminolo­gi Sumi, Amanda adalah akronim dari Anak Mantu Damai atau anak dan menantu harus selalu hidup rukun dan damai.

Joko, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Bandung, juga menaruh nama Brownies Kukus Amanda pada kardus pembungkus, agar lebih profesional. Setelah itu, hanya mela­lui promosi darn mulut ke mulut, pamor kue ini melesat. Pembeli berdatangan dan rela antre, terutama menjelang Lebaran. Minat pembeli ini membuat mereka kewalahan. Maklum, mereka hanya menuliki 3 kompor yang masing-masing untuk mengu­kus satu loyang. Akhirnya, Joko bereksperimen. Dengan bantuan seorang tukang, is mendesain kukusan yang memuat 6 loyang untuk satu kali mengukus. Kocokan adonan pun dibuat khusus, sehingga bisa mengocok untuk 6 resep sekaligus.

Tahun 2002, mereka pindah ke Jl. Rancabolang No.2 di kawasan yang sama, karena toko yang lama sudah terasa sesak. “Toko yang sekaligus rumah produksi itu hanya berupa bangunan tripleks seluas 4×6 meter,” ujar Ann. Pada periode ini, Brownies Kukus Amanda sudah tenar sebagai oleh-oleh bagi warga Bandung yang hendak bepergian ke luar kota.

“Kami benar-benar stres karena tidak mampu memenuhi per­mintaan pembeli. Tidak jarang kami harus menghadapi kemarahan dan caci-maki calon pembeli, yang sudah jauh jauhdatang, tetapi tidak kebagian kue,” tutur Atin.

Masalah itu lagi-lagi diselesaikan Joko dengan mendesain kocokan untuk 20 resep dan kukusan superbesar yang bisa memuat 50 loyang. Tak lama kemudian, Joko juga berhasil mendesain kocokan untuk 300 resep. Setelah itu, permintaan akan Brownies Kukus Amanda jadi tidak terbendung lagi. Tak hanya di Bandung, namanya pun tenar jauh ke luar kota. Kue ini seolah menjadi oleh-oleh wajib bagi orang­orang yang berkunjung ke Bandung. Dalam sehari, meski mengaku tidak mengetahui jumlah pastinya, Atin menyebut angka seribu lebih kue habis terjual. Karyawannya pun kini sudah mencapai 200 orang.

Selain sukses mendongkrak penjualan, cita-cita Sumi yang tersu­rat dalam nama Amanda juga terkabul. Semua anak dan menantu pasangan Sumi dan Sjukur ikut mengelola bisnis ini dan semuanya hidup rukun. Joko yang menjabat sebagai direktur utama, meminta adik-adiknya, Andi Darmansyah dan Sugeng Cahyono, me­ngelola 4 cabang resmi yang ada di Bandung, yaitu di jl. Cikawao, Antapani, Hyper Square Pasir Kaliki, dan toko mobil di JI. Dago. “Hanya adik ipar saya yang bungsu, Rizka, masih belum tertarik terjun dalam bisnis ini,” ujar Atin.

Awal tahun 2004, pusat toko mereka pindah ke bangunan perma­nen dua lantai dan berhalaman lapang yang megah di JI Rancabolang No 29, Margahayu, Bandung. Andi dan Sugeng juga ditarik ke kantor pusat untuk memegang jabatan sebagai direktur keuangan dan direktur operasional. Sementara itu, pabrik pembuatan Brownies Kukus Amanda tetap di JI. Rancabolang 2. Tahun ini pun Amanda akan membuka cabang barn di Surabaya dan Bogor.

SUDAH DIPATENKAN
Walaupun awalnya hanya industri kecil dengan skala rumahan, Brow­nies Kukus Amanda kini dikelola dengan prinsip manajemen modern. Setidaknya, itu terlihat pada upaya untuk membuat pengembangan produk, antara lain adanya 4 rasa barn untuk mendampingi brownies kukus rasa orisinal, yaitu cheese cream, blueberry, tiramisu, dan choco mar­ble sebagai topping. Karena hanya topping, rasa kue orisinal tetap bisa dinikmati pada lapisan bawahnya. Harga Brownies Kukus Amanda kini antara Rp19.500 hingga Rp29.000.

Pengembangan rasa baru ini, kata Atin, sebagai upaya untuk pe­nyegaran dan memberi rasa alternatif pada pelanggan. Empat rasa itu didapat CV Amanda sebagai hasil kerja sama dengan Akademi Pariwisata NHI (National Hotel Institute) Bandung. Meski begitu, Sumi masih menjadi konsultan untuk soal kelayakan rasa barn itu, sebelum dilempar ke pasaran.

Brownies Kukus Amanda ini sudah dipatenkan, \.meski Atin mengakui, soal hak paten di Indonesia masih belum punya `gigi’. Atin melihat, banyak pengekor kesuksesan Amanda ramai-ramai mengeluarkan produk bernama brownies kukus.

Hal lain yang membuat manajemen Amanda gemas adalah banyaknya penjual Brownies Kukus Amanda ‘liar’ di pinggir jalan seantero Bandung. “Memang, mereka membeli putus dari kami  untuk dijual lagi. Tapi, kami tetap dirugikan,

karena tidak bisa mengontrol kualitasnya,” ujar Atin. Ia bercerita, pihaknya sering menerima pengaduan konsumen, yang mendapatkan kue tidak layak makan.”Karena itu, kami mengimbau agar membeli di toko resmi saja,

Untuk mengatasi hal tersebut, CV Amanda kembali meminta polisi untuk melakukan razia.Ternyata, hanya berhenti sementara. Setelah itu, penjual pinggir jalan itu kembali lagi. “Kami pun akhirnya menyerah. Anggap saja kami berbagi rezeki dengan orang lain,” kata Atin, tersenyum.

artikel ayam bakar mas mono


Ayam Bakar Mas Mono
Gurih Sampai ke Tulang

untitled1

Ingin makan lezat, kenyang, dan terjangkau? Jalan–jalan saja ke kawasan Tebet, Anda akan menemukan beragam jenis makanan dari yang berkonsep gerobak, warteg, hingga restoran kelas menengah. Tempat makan yang bisa direkomendasi salah satunya Ayam Bakar Kalasan Mas Mono di Jalan Tebet Raya 57, Jakarta Selatan.

repro wartakota

Kalau Anda menuju ke Jalan Tebet Utara Dalam, lalu belok kiri sedikit, masuk Jalan Tebet Raya, persis di sudut kiri jalan akan terlihat satu komplek yang di dalamnya ada kios wartel, restoran Manado, dan studio musik. Warteg Ayam Bakar Kalasan Mas Mono nyaris tak terlihat karena posisinya mojok, dan tempatnya tak menarik, sederhana dan sumpek. Tapi, warung seluas 2×4 meter persegi dan hanya memuat maksimal 15 pengunjung itu nyaris tidak pernah sepi dari pengunjung.

Cukup dengan uang Rp 7.000, pengunjung bisa makan seporsi ayam bakar plus nasi, lalap, dan sambal. Menu lain tak banyak, ayam goreng, tempe, tahu. Minuman pun hanya soft drink, karena tak cukup tempat menyiapkan minuman olahan. Tapi, pengunjung datang ke sini karena ayam bakar dan sambal yang rasanya khas resep asli pemiliknya, Mono dan istrinya, Nunung.

Pria ini bernama lengkap Agus Pramono. “Saya ambil kata `Mas Mono` agar terkesan kampung, jadi lebih akrab. Kalau `Pram` kan kesannya lebih berkelas,” jelas Mono tentang nama produknya, saat ditemui Warta Kota di warungnya, Jumat (10/3).

Dari pengunjung biasa hingga kalangan artis, pejabat, dan dari anak sekolah hingga karyawan, semua suka rasa ayam bakar Mas Mono. Menurut Mono, rasa khas ayamnya yakni manis gurih hingga ke tulang. “Kucing saja enggak kebagian tulang, karena tulangnya juga enak dimakan,” kata Mono mengibaratkan.

Memasak ayam Mas Mono butuh waktu lama. Agar empuk sampai ke tulang. Sebelum dibakar, 30 ekor ayam direbus di panci besar selama sejam. Kok nggak hancur? “Itu ada teknik rahasianya,” ucap Mono.

Meski kelas kaki lima, Mono berani bersaing dengan produk lain yang serupa, karena dia selalu menjaga kualitas masakannya. “Saya pakai beras, kecap, lalap, dan ayam pilihan dari agen langganan. Bebas flu burung dan formalin,” ujarnya.

Kualitas pelayanan pun dia pakai pengalamannya sewaktu kerja di restoran siap saji. “Keramahan pada konsumen, kerapihan penampilan selalu dijaga, seperti kuku jangan panjang dan tidak berkumis. Saya masih nganut customer is king,” tutur ayah dari Novita “Oppie” Anung Pramono (3) ini.

Untuk membuat warung menarik, Mono majang foto–foto saat dirinya berpose dengan para artis, Harry Panca, Indy Barends, Delon, Miing, Fery Salim, Kristina, dan Krisdayanti. “Ayam Bakar Mas Mono tak ada duanya di Jakarta,” demikian kesan tertulis Agus Wisman, dan dipajang di dinding warung.

“Beberapa artis makan di sini, tapi ada yang ketemu waktu katering saya dipesan di TransTV atau hotel,” ujar Mono.

Mono menyebut beberapa artis yang pernah makan di warungnya: Uya, Miing, Tengku Firmansyah, Edi Brokoli, dan Andhika.

Pria kelahiran Madiun, 28 Agustus 1974 ini terkenal ulet. Dia pernah jadi office boy kantor, dan pernah kerja di dapur restoran siap saji fried chicken. Beruntung, dia menikahi wanita yang juga ulet.

Karena tuntutan ekonomi makin tinggi, lelaki berkulit gelap dengan kepala plontos ini memilih bewiraswasta. Dia mengawali usaha dari satu gerobak keliling yang menjual pisang cokelat gulung. Pas ngetem di depan Universitas Sahid, Jalan Soepomo, dia nemu lapak (kini pom bensin) yang membuatnya berpikir alih menu, yakni menjual ayam bakar, dengan modal awal Rp 500.000. Selama tiga tahun, gerobak dengan tenda bongkar pasang mangkal di situ, sampai digusur.

Untung, pamor ayam bakarnya sudah kadung terkenal. Saat cari lokasi baru pun, Mono dibantu pelanggan, pemilik tanah warungnya sekarang. “Dari kontrak Rp 3 juta, sekarang jadi Rp 8 juta per tahun,” ungkapnya.

Awalnya, Mono pesimis melihat posisi warungnya ngumpet. Tapi, dia coba yakinkan diri jika menu sedap pasti laku. Hasilnya dari memasak 80 ekor ayam per hari, kini bisa masak sampai 250 ekor ayam per hari. Gara–gara Harry Panca (presenter Dunia Lain), Mono sudah empat tahun menghandle katering jika Trans TV bikin gawean. Tanpa lewat tes produk, dan proposal, resep Mono sudah dipercaya.

Kateringnya pun sudah tembus ke rumah dinas wapres, kediaman Megawati, dan acara–acara pejabat. Kini Ayam Bakar Mas Mono sudah mau buka cabang ke–6, yang tengah direnovasi, di Jalan Tebet Timur Dalam 48, dengan kapasitas ruang yang lebih luas. Lainnya di Pulo Nangka Barat, Pengadegan Selatan Raya, dan Kantin Kampus ASMI–Pulo Mas.

Dari omzet awal Rp 15.000–Rp 20.000 per hari, omzet ayam bakar Mono kini rata–rata Rp 5 juta per hari (baru dari menu ayam bakar). Hal menarik Mono dari awal buka usaha tidak banyak menaikkan harga, karena dia menganut filosofi China. “Untung sedikit asal lancar,” kata Mono tersenyum. (Warta Kota/Yus)

Rumah makan iga bakar

Sop Iga

iga bakar

iga bakar

Meskipun daging iga pada umumnya memiliki teksur yang agak lengket, iga di Souplus Restaurant ini jauh lebih empuk. Untuk melepaskan dari tulangnya, cukup dengan sendok dan garpu. Iga dimasak dengan sop, yang kuahnya terasa sangat gurih.

Berdasarkan pola makan formal yang banyak diterapkan di negara-negara Eropa, sop merupakan menu yang dinikmati sebelum menyantap hidangan utama (main course). Di Indonesia, sop sering juga dinikmati sebagai hidangan utama, yang biasanya ditemani dengan nasi, dan condiment yang lainnya, seperti emping, jeruk nipis, sambal, daun bawang, dan sebagainya. Oleh karenanya, tidak mengherankan bila Indonesia, sampai sekarang, telah memiliki banyak sekali jenis sop pada masakan khasnya, seperti sop buntut, sop daging, sop kaki, dan belum lagi jika ditambah dengan jenis makanan berkuah yang lainnya, seperti soto, rawon, dan sebagainya.

Dimasak dengan Susu Segar
Salah satu jenis yang banyak diminati adalah Sop Iga. Seperti namanya, jenis sop ini menggunakan daging dari bagian iga, terutama dari daging sapi. Iga (ribs) diambil dari bagian tubuh di sekitar rusuk, yang teksturnya sendiri agak keras dan lengket. Karena tekstur yang seperti itu, iga sering sekali dijadikan bahan untuk steak atau masakan-masakan grill yang lainnya, dan banyak juga yang menggunakannya untuk membuat sop.

Salah satu restoran yang menyajikan Sop Iga adalah Souplus Restaurant. Iga direbus bersama dengan rempah-rempah, yang antara lain terdiri dari merica, kayumanis, pala, dan bunga lawar. Setelah mendidih, buih rebusannya dibersihkan, dan dimasukkan bumbu-bumbunya, yaitu bawang merah dan bawang putih yang sudah diblender menjadi satu.

Yang spesial dari Sop Iga di Souplus ini adalah penggunaan susu segar, yang dimasukkan terakhir, setelah bumbu-bumbunya dimasukkan. Bersama susu segar, dicampurkan pula penyedap rasa. Penggunaan susu segar sendiri membuat rasanya menjadi lebih gurih, mulai dari kuah hingga daging iganya.

Iga yang Empuk
Iga direbus hingga 2 jam. Oleh karenanya, dagingnya menjadi lebih empuk dan mudah dilepas dari tulangnya. Hanya dengan menggunakan sendok dan garpu, daging iga sudah dapat dilepaskan dari tulang dan siap disantap.

Sop Iga disajikan bersama potongan tomat, daun bawang, bawang goreng, dan emping. Bagi Anda yang menyukai pedas, bisa juga menambahkan sambal dan jeruk nipisnya. Semangkuk Sop Iga, lengkap dengan condimentnya ini, dapat dinikmati dengan harga Rp. 17.500,-. Dengan menambah Rp. 3.500,- lagi, Anda dapat menikmatinya bersama nasi. Mulai bulan April 2007 ini, dapat dinikmati pula paket promo yang terdiri dari Sop Iga, nasi, dan segelas lemon tea, yang ditawarkan dengan harga Rp. 21.000,-

Komentar tentang sop konro iga bakar

Konro Iga Bakar Saus Kacang!!

Ada tiga hal yang masih menahan saya berdiam di Endonesa – negeri ontran-ontran ini, serta tidak berusaha pergi mengais hidup ke negeri orang. Pertama skill, yang memang saya tidak punya. Kedua, koneksi yang memang saya juga tidak punya. Terakhir yang ketiga adalah makanan khas di sini yang layak dan berhak menyandang kata “Indonesia”. Terentang mulai dari mie aceh sampai nasi jagung kuah gulai ala Nusa Tenggara. Paling istimewa serta memudahkan, semua tersedia di Bandung.

Beberapa hari lalu ketika melewati Jl Gandapura yang merupakan area sayap Jl Riau, kembali saya melihat baliho dan spanduk baru yang terpasang di sebuah bangunan semi permanen. “Konro dan Coto Makassar”, salah satu makanan Indonesia favorit saya. Karena saat itu masih dalam misi wira-wiriswasta, cukup saya hapalkan tempatnya dan teguh-kukuhkan niat untuk mampir secepatnya di lain hari.

Kemarin akhirnya saya sempat mampir bersama istri. Tempatnya semi permanen sederhana beratap terpal plastik oranye tapi dengan meja bangku kayu yang cukup layak dan kuat menahan 40kg overweight saya. Menu dihamparkan oleh seorang pelayan. Menu yang buruk bagi konsumen karena tidak dicantumkan harga. Tentu saja segera saya wawancara pelayannya mengenai harga seluruh produknya. Coto Makassar Rp.11.000,-, konro Rp.18.000,-, konro dengan iga dibakar Rp.22.000,-. Semuanya per porsi. Weh… mahal amat!

OKlah, untuk makanan (di rumah makan) baru saya bersedia menerima kejutan. Pesan satu coto Makassar daging untuk istri dan satu konro dengan iga dibakar untuk saya. Nasi dua porsi. Satu teh botol. Komplimen teh pahit dua gelas besar juga dihidangkan.

Diskusi kecil antara saya dan istri mengenai bungkusan emping yang tersedia di atas meja. Saya menebak harganya Rp.4.000,-/bungkus. Istri saya menebak Rp.2.000,-. Pelayan yang datang kemudian menjawab Rp.1.000,-/bungkus. Murah! ternyata emping yang kualitasnya kurang baik. Agak keras, tapi habis 2 bungkus.

Coto Makassar dan nasi datang duluan. Coto datang di mangkuk kecil ukuran mangkuk soto semarang atau soto kudus. Lebih kecil dari mangkok baso, tapi lebih besar dari mangkuk nasi di fastfood masakan jepang terkemuka. Volume ini mengernyitkan dahi. “..dikit amat!!”. Memang hidup penuh kejutan ketika kuah kelamnya yang kira-kira kurang 1cm dari atas mangkuk dicoba ‘dikeruk’ dengan sendok. Sedikit saja di bawah permukaan kuah, mungkin kurang dari 1cm juga, sudah berjumpa dengan potongan-potongan daging kira-kira ukuran 2x2x2cm. Dikira-kira lagi, total sekitar 125-150 gram daging berjejal di dalam mangkuk tersebut. Coto datang dengan pendamping sambal, jeruk lemon, dan garam. Ini menjelaskan mengapa kuahnya sangat kurang asin. Bumbunya sangat pas. Bulat. Kalaupun menggunakan MSG, sama sekali tidak ada gurih yang berlebihan. Kaldunya juga terasa ‘rich’. Pokoke kuahnya sempurna, terlebih setelah ditambah garam, kecap manis dan asam dari jeruk lemon sesuai selera. Dagingnya empuk dengan bumbu terasa meresap dan ‘mrotholi’- orang Perancis bilang. Beberapa potong daging masih berselaput lemak tipis yang gurih.
Sayangnya sambal kurang pedas. Apabila ditambah lagi, khawatir malah merusak rasa ‘makanan pokok’nya. Setelah numpang mencicip 1-2 potong daging ditambah kuahnya, coto Makassar segera dikembalikan pada yang berhak, yaitu istri saya. (yang kemudian tandas dengan 2/3 nasi). Mengingat memang daging bagus sudah tidak ada yang dibawah Rp.45.000-/kg, price/performance ~1